Archive for June, 2007

uNtItLeD

Sunday, June 3rd, 2007

        Langit mendung lagi. Padahal baru saja beberapa menit yang lalu saat aku keluar rumah, matahari masih bersinar dengan teriknya. Ini bulan Mei. Seharusnya memang musim kemarau. Ah, tapi mana ada aturan musim di Indonesia sekarang ini?
        Aku mengenakan jaket abu-abu kesayanganku. Bukan sesuatu yang wajar membawa jaket saat panas terik tadi. Tapi nyatanya feeling-ku kali ini benar. Hanya selang beberapa menit dan cuaca mendadak berubah drastis. Angin bertiup kencang dan langit semakin gelap.
       Ponselku bergetar. Buru-buru aku membuka tasku untuk mengangkatnya sebelum ia mengeluarkan bunyi yang sangat keras yang bisa membuat seisi angkutan umum melihat ke arahku. Ya, aku lupa lagi mengecilkan volume ringernya. Untung telepon itu berhasil kuangkat sebelum ia mengoceh keras-keras.
        "Halo.." sapaku saat berhasil membuka flip ponselku.
        "Nad, lo di mana?" tanya suara di seberang sana
       "Gue di jalan. Bentar lagi nyampe. Tapi gue mau ke ATM dulu ya. Lo tunggu aja di tempat biasa. Gak lama kok.."
        "Oh, ok..sip. See u ya.."
        "Daah", kututup kembali flip ponselku. Tepat saat agkutan umum yang kutumpangi tiba di depan kampusku.
        "Kiri,kiri.." seruku meminta sang sopir untuk berhenti. Aku turun sambil menyerahkan dua lembar uang ribuan ke abang berkumis yang duduk di depan kemudi.
        Aku langsung berjalan menuju mesin ATM yang ada di sebelah kiri gerbang kampus. Setelah menarik beberapa lembar uang limapuluhribuan aku bergegas menuju tempat aku dan Lea bertemu. Lea, teman dekatku yang menelepon beberapa menit lalu saat aku berada di angkutan umum.
       Jarak antara gerbang dan tempat janjian aku dan Lea lumayan jauh. Kurapatkan jaketku karena angin bertiup semakin kencang. Saat itulah kudengar sebuah suara memanggilku dari belakang.
        "Nadine.."
        Sebuah kepala menyembul dari mobil sedan biru yang kini berada sejajar denganku. Dimitri. Aku terdiam sesaat. Why could it be so coincidence? Aku tersenyum dan berusaha mengeluarkan suara dari tenggorokanku.
        "Hai.." sapaku berusaha ramah
        "Mau kemana?" tanyanya sambil tersenyum. Aku berusaha sekeras mungkin agar tak meleleh.
        "Ke jurusan. Lo?" tanyaku balik. Aku memandang ke bangku di samping Dimitri. Kosong. Aku tahu kalimat apa yang selanjutnya akan dikatakannya.
        "Sama. Bareng yuk..", yup. Seratus untuk Nadine. Walaupun sebenarnya agak klise dan memang tidak sulit untuk ditebak, Dimitri bukan orang yang semudah itu untuk ditebak. Pernah suatu malam, jam 1 malam aku dan Lea bertemu Dimitri di jalan dan ia sama sekali tidak menawarkan diri untuk mengantar. Is he really a guy?
        Aku menatap wajahnya sepersekian detik. Ia menekan central lock untuk membuka pintu penumpang depan. Aku berjalan dan langsung masuk ke dalam mobilnya.
        "Gimana liburan?" tanyanya begitu mobil melaju.
        Aku merasa de ja vu..

                                                                                                                      

to be continued..